Friday, October 10, 2014

Selamat Malam, Kekasihku!

Selamat malam, Kekasihku! Hari ini aku telah egois padamu. Bahkan untuk diriku sendiri. Aku tidak suka melihatmu sakit, sementara aku selalu ingin bersamamu. Ingin kamu menemaniku. Harusnya hari ini ku biarkan kau istirahat, bukannya malah meminta kau menemaniku ke Takalar. Tapi, entah tadi aku hanya ingin bersamamu lebih lama. Di dekatmu aku bahagia!
Ini pertama kali kau bertemu ayah dan bunda. Surprise! Ayah tak sedikitpun menunjukkan ketidaksenangannya padamu. Apakah seyummu juga mampu menaklukkan hati ayahku? Hehe
Sayang, aku mencintai semuanya kamu! Bahkan dalam keadaan menyebalkan pun perasaanku tidak berubah.
Terima kasih karena kau telah mampu bertahan. Kau kekasih terhebat!
Seringkali aku bertanya, ya dalam hati saja.. Apa aku juga bahagiamu seperti kamu adalah bahagiaku? :(

Sunday, October 5, 2014

Tentang Demi untuk Bertahan

Selalu saja begini.. Semua tenaga dan kekuatan yang aku kumpulkan untuk mengungkapkan semuanya padamu hilang seketika. Semua konsepku buyar. Sudahlah lebih baik aku diam, memilih untuk tidak mempermasalahkan semua kegamanganku demi hubungan kita, demi hubungan yang sangat ku jaga ini. Demi kamu agar tetap di sisiku. Selamat malam, Kekasih Hebatku.
Untuk apa memberitahu kepada orang yang tidak ingin tahu?

Cinta Sejatinya Element

Aku mengutip sebuah lirik lagu dari Element, menurutku ada benarnya
"Cinta sejati yang bisa, memberi tanpa harus menerima.
Cinta sejati yang bisa, bertahan tanpa mengenal waktu." 
Aku perlu lebih bersabar lagi. Aku mencintaimu. Dengan berharap suatu hari nanti aku akan terbisa dengan caramu, atau kau yang akan terbiasa dengan caraku. Bukannya dalam suatu hubungan memang harus saling melengkapi? Aku akan berusaha sekuatku untuk melengkapimu. Demi Tuhan, aku ingin bahagia bersamamu, Kak. Aku bersyukur ada kau di hidupku. Maafkan aku yang sebelumnya terlalu banyak mau dan ingin. Mulai sekarang aku akan belajar menghargai apapun itu.
 

Saturday, October 4, 2014

Yang Tidak Sampai

Aku tak cukup penting bagimu. Itu bedanya kita, aku yang selalu menganggapmu terpenting, sementara kamu yang tidak bisa menghargai. Entah dengan cara apa lagi, berkali kesempatan telah ku beri, tapi sepertinya memang benar-benar tak penting bagimu.
Aku berada pada titik lelahku, Kak. Aku berada pada lelahku bertahan, dan ketakutanku tanpa kamu di hari-hariku lagi. Ironis kan? Aku dengan kegamangan hatiku, dengan harapan yang perlahan menipis agar kau bisa melihatku, aku hampir menyerah. Tapi, entah apa yang membuatku bertahan sejauh ini. Separuh waktu hubungan kita telah kau lalui dengan kebohonganmu, yang seperti melihatku tapi ternyata bukan aku.
Ada beban besar di dadaku, ingin sekali ku tumpahkan, agar kau tahu! Agar kau mengerti. Aku sebesar ini mencintaimu. Menomor sekiankan kebahagiaanku, walau sebagian besar kebahagiaanku adalah berada di samping kamu dan kamu tidak demikian. Walau aku tahu, saat ini kau menyayangiku dengan sungguh, hanya saja cara kita berbeda.
Aku lelah, sungguh. Mungkin butuh waktu, agar aku bisa menerima semua perbedaan ini. Aku takut kehilanganmu.

Friday, October 3, 2014

Harusnya..

Harusnya aku tak pernah mengharapkan orang lain yang membahagiakanku. Harisnya aku bisa bahagia dan mengandalkan diriku sendiri. Harusnya memang tak pernah aku gantungkan harapan pada orang yang selalu memberi kecewa. Harusnya tak pernah aku prioritaskan orang yang tak pernah melihatku. Bahkan oh Tuhan ini sakit sekali.. Harusnya memang aku bisa membahagiakan diriku sendiri dan tidak berharap orang lain melakukannya untukku. Termasuk kau!